INOVASI Sistem Cluster

BANNER INOVASI

Pendahuluan

 Apabila suatu negara ingin memenangkan persaingan di masa depan, maka kunci utamanya adalah perkuat inovasi. Hal ini telah dibuktikan oleh Amerika Serikat dan negara-negara maju seperti Jepang atau negara berkembang yang memiliki budaya inovasi yang kental seperti India yang menguasai hampir setiap kemajuan yang terjadi hari ini.Berapa banyak hasil inovasi yang telah dilahirkan disana sejak menjelang abad kedua puluh yang menjadi batu lompatan menuju teknologi yang kita rasakan saat ini.

Sebutlah teknologi internet dan layar sentuh, yang saat ini tertanam di dalam perangkat-perangkat yang ada di hampir setiap saku celana dan genggaman tangan kita. Atau teknologi “DNA sequencing” yang memungkinkan ditemukannya berbagai macam obat dan penyembuhan terhadap berbagai macam penyakit genetik. Atau usaha menemukan bahan bakar ramah lingkungan yang mengerucut pada bahan bakar hidrogen yang saat ini telah tertanam di dalam mobil keluaran Toyota yang akan dipasarkan tahun depan di Amerika dan Jepang yang emisinya adalah air (H20). Atau teknologi serat optik (fiber optic) yang memungkinkan terjadinya aliran data secara super cepat hingga kita dapat mengetahui apa yang sedang terjadi di belahan dunia lain dalam waktu singkat. Dan begitu banyak inovasi-inovasi lain yang melingkupi keseharian kita saat ini.

Lalu apakah kita, hanya akan menjadi penonton dan pemakai atas setiap kemajuan yang terjadi saat ini dan di masa depan? Tulisan ini sedikit berbagi dalam pengembangan inovasi untuk mendukung pembangunan wilayah agar kita dapat menjadi bagian dalam persaingan di masa depan.

  1. Mengapa INOVASI diperlukan

 Bagaimanakah analisis masalahnya ?

Secara etimologi inovasi berasal dari bahasa Latin “innovare” atau “innovatio” yang kemudian diserap ke dalam bahasa inggris “innovation” yang berarti pembaharuan atau perubahan. Kata kerjanya “innovo” yang artinya memperbaharui dan mengubah. Inovasi ialah suatu perubahan yang baru menuju ke arah perbaikan, yang lain atau berbeda dari yang ada sebelumnya, yang dilakukan dengan sengaja dan berencana (tidak secara kebetulan).

Menurut kamus Merrian-Webster, innovation (inovasi) berarti melakukan sesuatu dengancara yang baru; memiliki ide/gagasan yang baru mengenai bagaimana sesuatu dilakukan/dikerjakan.

 

Apa esensi masalahnya ?

 Kelurahan Rejowinangun sebelum tahun 2010 mengalamai perkembangan yang sangat lambat terlebih setelah adanya gempa bumi tahun 2006 yang meluluh lantakkan sebagian Kotagede termasuk Kelurahan Rejowinangun. Dengan berbagai alasan cukup sulit untuk berkembang cepat baik tata ekonomi maupun social budaya.Sehingga perlu suatu penyegaran yang relevan dengan kegiatan masyarakat Rejowinangun pada umumnya.

APA INOVASINYA ?

Siapa yang mengusulkan inovasi ?

Dalam perkembangan-perkembangan yang terjadi di kelurahan Rejowinangun, semuanya tidak akan terlepas dari peran Pemerintah dan masyarakat. Sebagai pejabat publik dan structural  Lurah sangat berperan aktif dalam kemajuan ekonomi maupun pembangunan yang lain demi kemajuan rakyatnya, sebagai abdi masyarakat sangat berperan dalam pembangunan dari berbagai sektoral. Gagasan inovasi ini muncul dari Retnaningtyas, SSTP selaku lurah Rejowinangun.

Apa Tujuan Inovasi dan siapa kelompok saasaran yang mendapat keuntungan ?

Tujuan dari inovasi ini adalah untuk meng efektifkan berbagai kegiatan dan pembinaan yang selama ini dengan berbagai alasan tempat, structural dan kultural dari masing-masing individu masyarakat kelurahan Rejowinangun sangat sulit mencapai ke arus bawah. Dengan adanya peng-clusther-an ini maka semua akan menuju sasaran yang tepat. Yang menjadi sasaran dari inovasi ini adalah warga kelurahan Rejowinangun dengan manfaat dan keuntungan yang didapat oleh warga itu sendiri baik secara kelompok maupun individu.

Apa sisi kreatif dan inovatif dari dari inovasi yang dijalankan ?

                   Inovasi dengan system cluster yang ada di kelurahan rejowinangun memang tidak hanya penggagas atau yang meluncurkan saja yang harus aktif dan kreatif dalam mendukung pelaksanaannya namun dengan dukungan masyarakat yang ada inovasi ini dapat berjalan dengan sukses dan hasil yang maksimal. Lurah bersinergi dengan LPMK, BKM, dan berbagai organisasi kelembagaan yang ada di wilayah bersama sama dengan masyarakat dalam mendukung demi kemajuan ekonomi maupun social budaya beserta pembangunan fisik yang ada di wilayah kelurahan Rejowinangun. Semua unsur yang ada di wilayah dituntut harus aktif dan kreatif sehingga program ini bias berjalan dengan niat dan pengorbanan sesuai dengan kemampuan masing-masing, ini semua dengan berbagai system yang diterapkan baik berupa gotong-royong maupun penggunaan dana yang ada.

BAGAIMANA MEKANISME INOVASINYA

Bagaimana kronologi/ tahapan kunci pelaksanaan inovasinya ?

Inovasi ini muncul karena melihat wilayah Kelurahan Rejowinangun saat itu tahun 2010 terlihat biasa saja tidak ada yang diunggulkan dan tidak ada yang membedakan dengan Kelurahan lain di Kota Yogyakarta. Kelurahan Rejowinangun yang merupakan 1 dari 45 kelurahan yang ada di wilayah kota Yogyakarta berada di tenggara kota Yogyakarta dengan luas 125 ha, 13 rw dan 49 rt dengan 12.146  jiwa dan 3.591 kk. Saat itu di kelurahan Rejowinangun tidak ada sesuatu yang menjadi cirri khas seperti yang dimiliki kelurahan lain seperti kelurahan prenggan dengan peraknya, purbayan dengan heritage nya, wilayah Kecamatan Kraton dengan budayanya. Kondisi itulah yang membuat Lurah Rejowinangun tergelitik untuk membuat inovasi. Setelah melakukan pendataan potensi yang dimiliki wilayah Kelurahan Rejowinangun maka bersama dengan tokoh dan lembaga masyarakat mencoba memetakan potensi yang dimiliki berdasar unggulan masing-masing wilayah. Dari berbagai macam potensi yang dimiliki seperti budaya, kerajinan, jamu herbal, kuliner dan sedikit persawahan maka terciptalah SISTEM CLUSTER yaitu system pembagian wilayah berdasar potensi unggulan yang terbagi menjadi 5 cluster :

  1. Cluster Budaya meliputi RW 01 – 05
  2. Cluster Kerajinan meliputi RW 06 dan 07
  3. Cluster Herbal meliputi RW 08 dan 09
  4. Cluster Kuliner yaitu RW 10
  5. Cluster Agro yaitu RW 11 – 13

Untuk mewujudkan gagasan inovasi ini, selalu diadakan koordinasi antara unsur pemerintah dengan masyarakat.Mulai tanggal 23 Maret 2010 Retnaningtyas, SSTP mulai menjabat sebagai Lurah Rejowinangun. Kondisi umum wilayah Rejowinangun pada waktu itu masih dalam kondisi gersang, banyak lahan tidur dan tidak dimanfaatkan secara ekonomis.

Melalui upaya dan swadaya secara menyeluruh, pada tahun 2011 mulai  merintis program untuk  menjadikan Rejowinangun sebagai KAMPUNG HIJAU dengan tujuan untuk menjadikan lingkungan menjadi lebih hijau, asri, sehat dan untuk pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat sehari-hari berupa sayuran dan buah-buahan. Melalui kajian kultur dan kegiatan sehari-hari masyarakat Rejowinangun, maka diluncurkan edaran dan sosialisasi gerakan penanaman setiap rumah 5 tanaman sayuran  dan buah dengan menggunakan media tanam polybag, pot atau lahan yang ditanam disekitar lingkungan rumah baik di tembok, pagar, atap maupun diatas selokan. Hal ini dilakukan oleh Lurah Rejowinangun Retnaningtyas,SSTP kepada Masyarakat dalam pembinaan ketahanan pangan dengan program lanjutan berupa pelatihan-pelatihan dan pendampingan menuju ke suatu kemajuan di berbagai sector.

Mulai tahun 2012 telah berkembang setiap rumah ada yang menanam sayuran, buah,dan tanaman herbal. Sehingga melalui proses yang konsisten seluruh masyarakat Rejowinangun terciptalah Rejowinangun sebagai KAMPUNG WISATA AGRO EDUKASI. Maka Terbentuklah satu cluster. Kemudian berkembang ke cluster-cluster berikutnya sesuai dengan potensi masing-masing wilayah.

Bila dituangkan dalam bagan alur  maka akan terpola sebagai berikut :

bagan-cluster

Bagaimana strategi dilaksanakan ?

Peng-cluster-an yang ada di wilayah kelurahan Rejowinangun terlaksana tidak hanya mengalir begitu saja, namun memerlukan teknik atau strategi khusus yang berkaitan dengan berbagai hal. Mengarahkan dan memberi contoh dalam upaya awal setiap cluster sangat diperlukan, penjelasan dan pengkajian berbagai sektor utuk menumbuhkan rasa ingin menjadi kampong yang maju dengan kesejahteraan yang meningkat menjadi titik tolak terlaksananya inovasi ini. Sebagai penggagas inovasi harus tahu kemauan dan basic dari masyarakat pada umumnya.

Siapa saja pemangku kepentingan yang terlibat ?

 Keterlibatan masyarakat dan kebijakan dari pemerintah kelurahan sangatlah diperlukan dalam inovasi ini karena sebagai leader dan sasaran dari inovasi ini harus jelas.

Sumber daya apa yang digunakan dan bagaimana sumber daya yang dimobilisasi ?

 Sumber daya manusia sangat berperan aktif dalam inovasi ini karena tanpa dukungan masyarakat maka inovasi ini tidah dapat berjalan baik. Dengan sinergisitas masyarakat untuk mencapai suatu program tertentu maka akan terbentuklah suatu kelompok yang mempunyai sikap dan sifat gotong royong yang sangat tinggi. Baik berupa kerja social maupun individu yang kesemuanya untuk kepentingan umum.

Apa out put inovasi ?

 Out put dari inovasi system cluster ini adalah keberhasilan dan peningkatan kesejahteraan dari warga masyarakat langsung dapat dirasakan. Terbukti dengan berhasilnya peng-cluster-an ini. Potensi ekonomi di Kelurahan Rejowinangun sangat banyak dan menyebar di seluruh RW yang kami cluster menjadi 5 yaitu :

1. Kampung Budaya

Kampung budaya berada di RW 01, 02, 03, 04 dan 05 dengan potensi seni yang beranekaragam yang sudah memiliki nilai jual baik dengan mendatangkan wisatawan maupun bekerjasama dengan pengusaha Lokal seperti KRKB Gembiraloka dan hotel di wilayah Kelurahan Rejowinangun.

Adapun potensi seni yang ada diantaranya :

* Wayang durasi 2 jam berbahasa inggris

* Karawitan

* Sanggar Tari

* Keroncong

* Jathilan anak

* Mocopat

* Hadroh

* Angklung

* Gejog lesung

* dll

  1. Kampung Kerajinan

Kampung Kerajinan berada di RW 06 dan 07 Kelurahan Rejowinangun dimana kedua RW ini banyak sekali Home industry khususnya di bidang kerajinan baik yang sifatnya local maupun yang sudah dijual diluar wilayah DIY diantaranya :

* Kerajinan Kulit

* Fiber

* Ukir Kayu

* Batik tulis dan jumputan

* Suttlecok

* Lukis kaca terbalik

* Wayang kulit

* Pemanfaatan Limbah plastic

* dll

 

  1. Kampung Herbal

 

Kampung herbal berada di RW 08 dan 09 Kelurahan Rejowinangun dimana dua RW ini sebagai sentra pembuat jamu Gendong yang kami beri nama J’GER (Jamu Gendong Rejowinangun) dan jamu instan. Dari situ berkembang kampong herbal sebagai sarana pemenuhan kebutuhan utama pembuat jamu gendong dengan cara menanam tanaman herbal disetiap rumah, jalan dan gang dengan pemanfaatan lingkungan yang ada.

 

  1. Kampung Kuliner

 Kampung Kuliner berada di RW 10 dimana di RW ini banyak sekali rumah tangga yang membuat makanan kecil. Sebagai sentra Kuliner  kami bantu dalam pemasarannya dengan himbauan kepada seluruh masyarakat khususnya RT, RW, PKK dan lembaga social lainnya untuk menggunakan produk local (proteksi produk local) dalam setiap kegiatan sejak tahun 2012 dengan brand REMAJA (rejowinangun makmur jaya) yang dikelola oleh P2WKSS PKK Kelurahan Rejowinangun dan menghimpun seluruh UKM kuliner di wilayah Kelurahan Rejowinangun.

  1. Kampung Agro

 Kampong Agro berada di RW 11, 12 dan 13 dengan spesifikasi masing-masing RW berbeda misalnya RW 11 sebagai kampong Anggrek, RW 12 Sebagai Kampung Agro edukasi khusus tanaman sayuran dan buah, RW 13 sebagai Kampung Flori khusus untuk tanaman hias. Saat ini Kampung Agro ini menjadi icon Kelurahan Rejowinangun dengan nama KAMPUNG WISATA AGRO EDUKASI yang sudah mendatangkan banyak wisatawan baik dari DIY maupun Luar DIY. Selain itu kampong Agro ini juga pernah masuk dalam Musium rekor Indonesia dengan pembuatan keripik daun Varietas terbanyak (272 jenis daun) yang kami beri nama RON RENYAH yang saat ini sudah mendapat pesanan dari berbagai daerah dan supermarket.

Selain itu sesuai dengan motto Kelurahan Rejowinangun untuk mewujudkan masyarakat yang Rejo, Makmur dan Jaya maka Pemerintah kelurahan bersama dengan lembaga sosial masyarakat terus berupaya mewujudkan masyarakat yang mandiri melalui berbagai kegiatan diantaranya :

  1. Mendirikan kelompok usaha REMAJA (Rejowinangun Makmur Jaya) yang dikelola oleh ibu-ibu PKK se Kelurahan Rejowinangun untuk mewadahi pembuat makanan baik snack maupun makanan berat.
  2. Membuat Himbauan kepada seluruh RT dan RW se Kelurahan Rejowinangun dalam penggunaan produk local sebagai upaya membantu pemasaran dan percepatan peningkatan perekonomian masayarakat.
  3. Mendirikan kelompok usaha PRASTHA BHAKTI PRODUCTION yang dikelola karang taruna bergerak dibidang souvenir dan segala pernak-pernik yang dibutuhkan masyarakat.
  4. Mendirikan kelompok usaha J’GER (Jamu GEndong Rejowinangun) untuk mewadahi pengrajin jamu gendong di wilayah Kelurahan Rejowinangun.
  5. Membentuk KUBE (Kelompok Usaha bersama) dengan difasilitasi oleh dinas Sosial
  6. Membentuk PEW (penguatan Ekonomi Wilayah)
  7. Membentuk Koperasi sebagai sarana pembelajaran bagi masyarakat missal SIPIGORO, Koperasi wanita, dan lain-lain
  8. Bekerjasama dengan pihak ketiga dalam rangka pemasaran produk masyarakat missal Kerjasama dengan KRKB Gembiraloka dimana pihak Gembiraloka menyediakan satu space untuk masyarakat Rejowinangun berjualan produk warga, Hotel dimana jamuan makan dan jamu gendong J’GER sudah menjadi suguhan.
  9. Membuat Kampung wisata dimana melalui kampung wisata ini Kelurahan rejowinangun dapat membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat baik sebagai pemandu wisata maupun dengan berjualan selain itu pendapatan masyarakat juga bertambah dengan cara berjualan tanaman, makanan, souvenir maupun dari retribusi masuk kampung wisata.
  10. Membuat Kelompok usaha RON RENYAH yang bergerak dipembuatan keripik daun dimana usaha ini pernah memecahkan REKOR MURI sebagai pembuat keripik daun dengan varietas terbanyak. Dari usaha ini selain menyerap tenaga kerja yang cukup banyak juga mampu meningkatkan pendapatan masyarakat.

Melalui berbagai macam kegiatan ekonomi tersebut akhirnya mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, meningkatkan pendapatan, mengurangi pengangguran dan menjadikan roda perekonomian masyarakat Kelurahan Rejowinangun  semakin berputar.

Sistem apa yang diterapkan untuk memacu kemajuan dan mengevaluasi kegiatan ?

 Pada setiap program yang diluncurkan kebanyakan setelah jalan maka selesai sudah atau bersifat seremonial, insidentil, dadakan dan sebagainya, namun di wilayah kelurahan Rejowinangun tidaklah demikian. Dengan system cluster ini maka akan memudahkan masyarakat maupun SKPD  dalam pembuatan program  dan pendampingan. Penggagas inovasi tidaklah khawatir akan berhentinya program ini karena masyarakat sudah benar-benar menjiwai akan system ini dengan suatu hasil yang didapatkan. System training/pelatihan, efektivitas waktu dan penggunaan dana diterapkan dalam inovasi ini untuk kemudian dapat dievaluasi secara berkala. Dari hasil evaluasi ini maka akan dapat sebagai tolak ukur ataupun titik tolak untuk maju bersama mensejahterakan masyarakat wilayah keluraha Rejowinangun.

 

Apa kendala yang dihadapi dan bagaimana mengatasinya ?

 Setiap kegiatan tentu saja ada kendala yang dihadapi. Begitu juga dalam penerapan system cluster ini. Kadang masyarakat setelah terbentuk suatu cluster akan enggan untuk mengembangkan usaha yang lain diluar cluster nya, dengan sifat masyarakat yang heterogen atau beraneka ragam inilah justru dapat di arahkan untuk pengembangan inovasi ini.

Pengetahuan yang terbatas sehingga kadang bingung untuk pengembangan usahanya, ini dapat diatasi dengan pelatihan-pelatihan dan pendampingan secara kontinyu.

Kesibukan masing-masing warga juga menjadi salah satu kendala dalam pengembangan inovasi ini, ada muncul iri karena tidak kerja bakti dan lain-lain, ini dapat diatasi dengan mengadakan kerja bakti hanya setiap hari yang sebagian besar libur, dan menyesuaikan dengan keinginan warga pada umumnya, juga bis adengan menerapkan aturan pengganti kerja bakti missal dengan pengganti snack dan minum ala kadarnya yang semuanya itu sudah menjadi kesepakatan seluruh warga dalam pertemuan atau evaluasi.

Kendala klasik yang tidak kalah pentingnya adalah sumber dana pengembangan, ini sangat menjadi kendala yang signifikan karena memang hamper semua produksi maupun perawatan dengan menggunakan dana. Kendala ini sebagian sudah dapat teratasi dengan penjualan hasil produksi, baik barang maupun jasa, dengan promosi yang cukup juga akan ada kegiatan pentas yang merupakan wadah dari kampong budaya, missal adanya pengisi kesenian di panggung Gembiraloka zoo, pesanan produksi jamu di hotel-hotel atau outlet yang lain. Pendanaan dengan adanya pelimpahan kewenangan Walikota kepada Camat berupa pelatihan-pelatihan, bantuan alat dan pendampingan.

 APA DAMPAK INOVASINYA ?

 Apa dampak sesudah inovasi dihasilkan ?

 Disetiap kegiatan maka akan menimbulkan dampak baik itu positif maupun negative.

Dampak negatifnya adalah dengan system cluster ini maka persepsi masyarakat seolah-olah dibatasi dalam berkreasi, namun ini semua dapat diatasi dengan berbagai program umum maupun khusus yang menampung aspirasi dari masyarakat wilayah rejowinangun dengan memupuk kreativitas yang dimiliki warga.

Sedangkan dampak positif yang dihasilkan adalah :

1) Tumbuhnya UKM di wilayah Kelurahan Rejowinangun;

2)  Peningkatan pendapatan dari berbagai sector di tiap cluster

3)  Pemasaran semakin meluas

4)  Banyaknya kunjungan yang berdampak pada peningkatan ekonomi

5)  Meningkatnya keguyubrukunan warga msyarakat

6)   Memudahkan SKPD maupun lembaga social masyarakat dalam membuat program kegiatan

7)   Masyarakat semakin mandiri dalam berbagai kegiatan tidak semata-mata bergantung pada bantuan

 BAGAIMANA KEBERLANJUTAN INOVASI ?

Apa lessons learned yang diperoleh ?

 Inovasi dengan system Cluster ini sangat sesuai dari segi penerapan maupun pelaksanaan, sehingga kita akan mendapatkan pelajaran yang sangat berharga, karena selaku pemerintah abdi masyarakat akan benar-benar dapat mengenal wilayah dan warganya secara keseluruhan baik potensi maupun skala ekonomi social budaya masyarakat pada umumnya. Dengan mengedepankan musyawarah dan sharing maka sinergi antara Lurah, LPMK, BKM dan masyarakat beserta lembaga-lembaga social yang ada akan sangat solid dan terjalin secara baik, ini dapat dibuktikan dari setiap kegiatan yang diadakan maka semua akan mendukung dalam pelaksanaannya dan saling mengisi kekurangan-kekurangan yang dimiliki masing-masing cluster.

 

Bagaimana kemungkinan untuk mereplikasi inovasi di tempat lain ?

 Kemudahan inovasi yang telah diterapkan di wilayah Kelurahan rejowinangun ini akan sangat mungkin untk diterapkan di wilayah lain, karena dasar dari inovasi ini adalah partisipasi masyarakat, pengenalana masyarakat akan kultural maupun potensi dari masyarakat yang ada. Dengan mengenal dan dengan system turun ke bawah pemerintah kelurahan maka akan mempercepat penerapan dari system cluster ini. Keberhasilan dari system cluster ini akan sangat terasa manfaat yang diperoleh secara umum, khusus, individu maupun kelompok, dengan keberhasilan system ini maka pemerintah atau lembaga yang lain pun tidak akan sulit dalam membuat program, pelaksanaan atau pengawasan baik secara khusus maupun secara umum sehingga akan sesuai dengan sasarannya. Di dalam evaluasi juga tidak akan terlalu banyak yang berseberangan karena dengan pengelompokan potensi dan kemampuan warga dapat langsung diketahui maksudnya. Maka pantaslah disebut bahwa system cluster ini dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi warga.

 

Selamat menggunakan SYSTEM CLUSTER UNTUK PENINGKATAN PEREKONOMIAN, semoga berhasil dan sukse

 

 

Kelurahan, PSM, Karang Taruna Kembali mengukir Prestasi

2016 baru setengah perjalanan, tetapi bukan halangan bagi Kelurahan Rejowinangun untuk kembali menggoreskan prestasi demi prestasi. Ini membuktikan bahwa apa yang kami kerjakan bukanlah kegiatan instan, kegiatan abal-abal tetapi apa yang kami lakukan bersama masyarakat adalah nyata.

setelah bertahun-tahun kami bekerja sama, menjalin komunikasi, mensinergikan berbagai lembaga dan elemen masyarakat, kini kembali kami memetik hasil perjuangan kami. Kembali tinta-tinta emas tergores untuk Kelurahan Rejowinangun setelah kami lolos sebagai Juara 1 Lomba Evaluasi Perkembangan Kelurahan Tingkat DIY, kami masuk dalam nominasi 4 besar nasional regional Jawa Bali, selain itu kami berhasil menjadi Juara 1 PSM (Pekerja Sosial Masyarakat) atas nama Bardan Al Khuri Tingkat DIY dan berhak maju ke babak nasional dan Karang taruna kami sebagai juara harapan 1 tingkat DIY.

semua yang kami dapat tidak semudah membalikkan telapak tangan, semua butuh proses, dengan potensi yang ada serta sumber daya manusia yang kami miliki kami berupaya semaksimal mungkin untuk membawa Masyarakat kelurahan Rejowinangun menjadi masyarakat yang maju, sejahtera, mandiri dan berjaya.

jangan melihat hasilnya tapi lihatlah prosesnya…..

dari Rejowinangun untuk Indonesia…

Prestasi bukan akhir perjuangan

Prestasi demi prestasi ditorehkan oleh Kelurahan Rejowinangun setelah pada tahun 2015 Kelurahan Rejowinangun mendapat 18 penghargaan diantaranya :

  1. Pemecah Rekor MURI pembuatan keripik Daun Varietas terbanyak 272 jenis daun
  2. Pengahargaan Adhikarya Pangan Nusantara dari Presiden RI
  3. Juara 1 Evaluasi pembangunan Kelurahan Tingkat DIY
  4. Juara 3 Kelurahan Peduli Osteoporosis Tingkat DIY
  5. Juara 1 GSI Tingkat Kota Yogyakarta
  6. Juara 1 LBS Tingkat Kota Yogyakarta
  7. Juara 1 Administrasi PKK Tingkat Kota Yogyakarta
  8. Juara 2 PHBS Tingkat Kota Yogyakarta
  9. Juara 1 KKG PKK Tingkat Kota Yogyakarta
  10. Juara 1 HATINYA PKK Tingkat Kota Yogyakarta
  11. Juara 3 KKG PKK Tingkat DIY
  12. Juara 2 Pemanfaatan TOGA Tingkat DIY
  13. Juara 3 KKG PKK Tingkat DIY
  14. dll

Di awal Tahun 2016 kembali prestasi diperoleh Kelurahan Rejowinangun yaitu :

  1. Juara Harapan 1  Kampung Wisata Tingkat DIY
  2. Juara 1 Evaluasi Perkembangan Kelurahan Tingkat DI Yogyakarta
  3. Juara 1 PSM Berprestasi Tingkat Kota Yogyakarta
  4. Juara 1 Karang Taruna Berprestasi Tingkat Kota Yogyakarta

Semua perstasi itu adalah bonus dari seluruh perjuangan warga Kelurahan Rejowinangun dengan keguyubrukunan, dengan kekompakan, dengan swadaya dan niat untuk membangun Rejowinangun. Prestasi bukanlah akhir dari perjuangan tetapi awal dari masa depan, apa yang bisa kita lakukan setelah prestasi kami dapatkan. Untuk lebih memperbaiki wilayah, untuk lebih kompak, untuk lebih berdaya dan menjadi masyarakat mandiri mewujudkan Masyarakat Rejowinangun yang makmur, sejahtera dan jaya bukan hanya di Kota Jogja tetapi juga di Indonesia.

REJO MAKMUR JAYA

13221763_1120978084590340_6269587943009147879_n

13267769_1128398677181614_372861481036472589_n

SUNMOR Bonbin Rejowinangun

Kelurahan Rejowinangun kini memiliki wisata baru yaitu SUNMOR Bonbin Rejowinangun yaitu sebuah pasar pagi yang dilaksanakan setiap hari Minggu pagi mulai jam 06.00 s/d 11.00 Wib yang berlokasi disepanjang jalan Kebunraya Rejowinangun, Kotagede, Yogyakarta.

Maksud diadakannya Sunmor Bonbin rejowinangun adalah untuk mewadahi semua potensi yang ada di wilayah Kelurahan Rejowinangun baik itu potensi UMKM, potensi seni budaya maupun potensi lainnya yang ada di lima klaster di wilayah Kelurahan Rejowinangun.

Dengan dana swadaya dan bantuan CSR dari pengusaha setempat kegiatan ini sangat bermanfaat selain dapat digunakan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat, menghidupkan UMKM, juga digunakan sebagai ajang silaturahmi warga, pengenalan potensi budaya lokal serta sebagai daya tarik wisata baru melengkapi kampung wisata yang sudah dikembangkan di Kelurahan Rejowinangun.

12963783_1054987041240565_2591007876627754414_n

Permainan tradisional juga dikenalkan di Sunmor

11224761_1054990967906839_7347708738035760192_n

sebagian UKM Rejowinangun

944981_124793381250699_4231998474746844267_n

Seni budaya dari Kampung Budaya Istimewa

berita_261954_800x600_SunMor_2_-_web

Penilaian Adhikarya Pangan Nusantara Tingkat DIY 2015

Walikota Jogja : Rejowinangun Layak Terima Penghargaan Adhikarya Pangan Nusantara 2015.

“Ada ataupun tidak lomba atau penilaian kelurahan Rejowinangun sudah dan selalu siap dalam memberdayakan masyarakatnya, termasuk dalam ketahanan pangannya. Rasa-rasanya Rejowinangun layak mendapatkan penghargaan itu,” ujar Walikota dihadapan para tim juri. (baca selengkapnya di: www.jogjakota.go.id/news)

Sekilas berita yang termuat di media jogjakota.go.id dan http://krjogja.com/read/269878/kelurahan-rejowinangun-layak-terima-adikarya-ketahanan-pangan-2015.kr setelah kami menerima kunjungan Tim Juri penilaian adhikarya Pangan Nusantara dari DIY tahun 2015 katagori pembina ketahanan pangan.

Lurah Rejowinangun bersama warga masyarakat dan lembaga sosial yang ada berkomitmen mewujudkan Kelurahan Rejowinangun yang berdaulat pangan, hal tersebut tidak hanya sekedar slogan tetapi kami melakukan berbagai kegiatan agar kedaulatan pangan bisa terwujud.

pangan sebagai kebutuhan utama yang hakiki yang harus dipenuhi setiap orang menjadi hal yang sangat penting. Ketahanan pangan di Rejowinangun tidak hanya mengandalkan pada produksi sawah saja, dengan luas sawah yang hanya 5,6 Ha tidak akan mencukupi kebutuhan pangan warga Kelurahan Rejowinangun sejumlah 12.085 jiwa. Oleh karena itu yang terpenting bagi kami adalah adanya ketersediaan pangan, kemudahan dalam aksesnya dan terjangkau bagi masyarakat. Untuk mengimbangi produksi beras yang tidak mencukupi maka kami mengoptimalkan lahan yang ada di masing-masing rumah tangga dengan menanam tanaman baik sayur dan buah masing-masing sedikitnya 5 tanaman setiap rumah selain sebagai tambahan gizi dan nutrisi bagi keluarga, pemanfaatan pekarangan juga sebagai lumbung hidup bagi warga Kelurahan rejowinangun dan saat ini berkembang menjadi nilai ekonomi karena dari pemanfaatan pekarangan sekarang Kelurahan Rejowinangun menjadi tujuan wisata alternatif yang mampu meningkatkan perekonomian dan mengurangi pengangguran.  Kegiatan lain yang kami lakukan adalah pembiasaan sejak dini mengenalkan makanan non beras untuk anak-anak sehingga anak-anak terbiasa mengkonsumsi makanan non beras yang notabene dihasilkan dari pekarangan yang dimiliki. Himbauan bijak untuk mengurangi konsumsi beras dalam rangka ketahanan pangan sekaligus untuk meningkatkan derajat kesehatan juga dilakukan dengan menghimbau masyarakat memasak beras sesuai dengan jumlah anggota keluarga, kita assumsikan jika satu keluarga mengurangi konsumsi beras  1 ons/hari maka satu kelurahan Rejowinangun dapat menghemat pemakaian beras 351,9 Kg/hari (jumlah KK 3.5019 KK) jika dikalikan satu tahun maka Kelurahan Rejowinangun dapat menghemat 7,2 ton/hari, sungguh luar biasa jika bisa dilakukan di seluruh wilayah di Indonesia berapa banyak beras yang bisa dihemat dan kita tidak perlu lagi impor beras. Semua dapat terwujud jika kita memiliki makanan pendamping dan untuk itulah Kelurahan Rejowinangun berupaya memaksimalkan pekarangan yang ada.

Walikota Yogyakarta H. Haryadi Suyuti memberi sambutan dalam penilaian adhikarya pangan nusantara

paparan lurah tentang ketahanan pangan di Kelurahan Rejowinangun

Bapak Walikota Yogyakarta H. Haryadi Suyuti dan Bapak Kasdim  Mayor (Inf) Suwarno ikut memainkan musik bersama opera 37

Evaluasi Pembangunan Kelurahan

Beberapa saat yang lalu Kelurahan Rejowinangun mendapat penilaian dari Tim Juri DIY dalam rangka evaluasi Pembangunan Kelurahan Tahun 2015 setelah berhasil mendapat nilai terbaik dalam evaluasi pembangunan Kelurahan Tingkat Kota Yogyakarta (http://www.suarayogyakarta.com/blog/2015/06/bppm-diymelakukan-penilaian-perlombaan-kelurahan-tingkat-diy/, http://www.jogjakota.go.id/news/Berbagai-Potensi-Kelurahan-Rejowinangun-Sambut-Tim-Evaluasi-Pembangunan-Kelurahan-Tk-DIY, http://portal.jogjaprov.go.id/pemerintahan/kalender-kegiatan/view/kelurahan-rejowinangun-kembangkan-lima-klaster-pemberdayaan-masyarakat). Kelurahan Rejowinangun layak menjadi terbaik karena potensi yang dimiliki sangat luar biasa (http://jogjadaily.com/2015/06/kunjungi-rejowinangun-tim-juri-lomba-desa-dan-kelurahan-tingkat-diy-2015-apresiasi-klaster-potensi/), hal tersebut juga tidak terlepas dari adanya sinergisitas antara pemerintah dengan masyarakat dan lembaga-lembaga sosial yang ada.

Dari hasil penilaian tersebut maka berdasar surat dari BPPM DIY kelurahan Rejowinangun ditetapkan sebagai jura 1 evaluasi pembangunan kelurahan tingkat DIY.  Tetapi bagi kami kejuaraan bukanlah target utama dalam kegiatan ini, apa yang akan dilakukan dan apa yang dapat dikembangkan untuk memajukan wilayah serta peningkatan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat itulah yang terpenting dari rangkaian kegiatan yang ada.

Kerjasama dengan berbagai pihak selalu kami lakukan agar potensi yang dimiliki Kelurahan Rejowinangun bisa semakin berkembang dan mampu mewujudkan kemandirian.

Salah satu potensi seni Sanggar Sari Budaya Kelurahan Rejowinangun

Lurah saat memaparkan potensi wilayah

Tim Juri mengunjungi potensi warga

Penetapan juara Lomba Kelurahan tingkat DIY

Pengembangan Kampung berdasarkan Potensi

Kelurahan Rejowinangun semakin hari semakin bergeliat, tidak hanya sekedar bersolek untuk mendapatkan pujian tetapi jauh daripada itu Kelurahan Rejowinangun saat ini mulai meningkatkan peran pemberdayaan masyarakat dalam rangka peningkatan perekonomian melalui UMKM ekonomi kreatif.

Untuk mewujudkan perekonomian yang lebih baik, pengurangan pengangguran dan penumbuhan rasa bangga terhadap wilayahnya maka mulai dikembangkan kampung-kampung ini sesuai dengan potensinya masing-masing misal RW 01 – 05 Gedongkuning dikembangkan menjadi KAMPUNG BUDAYA. RW 06 dan 07 Kampung Rejowinangun dikembangkan menjadi KAMPUNG KERAJINAN karena disana banyak sekali pengrajin atau warga yang mempunyai usaha kerajinan. RW 08 dan 09 Kelurahan rejowinangun akan dijadaikan sebagai KAMPUNG HERBAL karena disana merupakan sentra pengrajin JAMU GENDONG (J’GER). RW 10 adalah KAMPPUNG KULINER sebagai sentra pengrajin makanan kecil serta adanya banyak warung yang cukup menarik wisatawan. RW 11 – 13 dikembangkan sebagai KAMPUNG AGRO yang terdiri dari Kampung Anggrek (RW 11), kampung Agro Edukasi (rw 12), Kampung Flori (rw 13)

dengan peng clusteran dimaksud maka program dari Pemerintah pun akan mudah untuk dilaksanakan dan lebih mudah dalam pengembangan kampung